Khotbah Jum'at

Jauhi KDRT

20:36, 12 Januari 2014 | Dibaca 2097 kali

 

Menjauhi Kekerasan dalam Rumah Tangga

Oleh : Dr. Moh. Fauzi Umma, M.Ag.*

 

الخطبة الأولى

الحمد لله الذي خلق الناس من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبثّ منهما رجالا كثيرا ونساء, والصلاة والسلام على سيّدنا محمّد القائل : إتّقواالله فىالنّساء فإنّكم إنما أخذتموهن بأمان الله واستحللتم فروجهنّ بكلمةالله. إن لكم عليهنّ حقا ولهن عليكم حقا. وعلى أله وأصحابه ومن تبعه بإحسان إلى يوم المعاد . (أما بعد). فيا عبادالله , إتقوا الله واعلموا أن تقوى الله ييسّر أمور المؤمن فى الدنيا ويكفّر السّيئات ويعظم الأجر فى الأخرة. قال الله تعالى في كتابه الكريم: مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. صدق الله العظيم

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah

            Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur keadirat Allah swt yang selalu melimpahkan nikmat, taufiq, dan inayahNya kepada kita, sehingga hati kita tergerak untuk memenuhi panggilan iqomatul jum’ah ini. Sholawat dan salam marilah kita haturkan kepada junjungan dan pemimpin umat manusia, Rasulullah Muhammad saw yang telah mengangkat arkat dan martabat manusia setara di hadapan Allah swt atas dasar nilai ketaqwaannya, serta menuntun manusia menuju sirothol mustaqim; jalan keselamatan, jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang mendapat bimbingan Allah, bukan jalannya orang-orang yang sesat.

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Di kalangan masyarakat kita sering mendengar ungkapan bahwa di dalam keluarga pemimpinnya adalah suami, sehingga dalam Kartu Keluarga pun tertulis nama suami sebagai kepala keluarganya. Hal ini sering dikuatkan dengan dalil al-Qur'an, yakni Surat al-Nisa' ayat 34 sebagai berikut:

الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم فالصلحت قنتت للغيب بما حفظ الله ....

Di dalam terjemahan arti yang diberikan adalah:

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka perempuan yang sholehah adalah yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada, dan karena Allah telah memelihara mereka...".

 

Ada beberapa hal yang perlu kita cermati dari redaksi yang digunakan dalam ayat di atas. Pertama, kata "  الرجال " itu tidak berarti laki-laki secara biologis, melainkan laki-laki secara sosiologis yang sekarang dikenal dengan maskulinitas. Demikian juga kata " النساء " tidak bermakna perempuan secara fifik, melainkan berarti feminimitas. Artinya, sifat maskulinitas (seperti tangguh, kokoh pendirian, dan lain-lainnya) itu bisa dimiliki baik oleh laki-laki (suami) maupun perempuan (isteri). Sebaliknya, sifat feminimitas (seperti kelembutan, penyayang, dan lain-lainnya) itu juga bisa dimiliki baik oleh suami maupun isteri. Kedua, kata " قوامون " itu tidak tepat jika diartikan dengan pemimpin menggunakan garis vertikal seperti sistem komando dalam dunia militer. Kata " قوامون " lebih tepat diartikan dengan "pendorong, motivator" yang hubungannya dengan menggunakan garis horizontal. Di dalam ayat di atas, ada 2 (hal) yang menyebabkan seseorang (suami atau isteri) berhak menjadi " قوامون ", yakni mempunyai kelebihan dan menjadi penopang ekonomi dalam keluarga. Ayat di atas menunjukkan bahwa yang mempunyai kelebihan itu tidak mesti dimiliki oleh suami. Karena redaksi yang digunakan adalah " بما فضل الله بعضهم على بعض " (dengan kelebihan yang diberikan Allah atas sebagian yang lain). Jika sifat "kelebihan" itu pasti dimiliki laki-laki (suami), seharusnya redaksi kalimatnya berbunyi "بتفضيلهم عليهن" (Allah melebihkan laki-laki atas perempuan). Jika beberapa point tersebut dirangkum, maka makna Surat al-Nisa' ayat 34 adalah: "siapa saja yang mempunyai sifat maskulinitas (baik suami atau isteri) yang ditandai memiliki kelebihan dan menjadi penopang ekonomi keluarga itulah yang berhak menjadi motivator dalam kehidupan rumah tangganya".

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Kesalahpahaman di dalam memahami Surat al-Nisa' ayat 34 di atas, menyebabkan sering terjadinya dominasi salah satu jenis kelamin atas jenis kelamin yang lain dalam kehidupan rumah tangga. Dominasi ini bisa berlanjut dalam bentuk tindak kekerasan dalam rumah tangga yang sekarang sering disebut dengan KDRT. Memang, yang menjadi korban KDRT itu bisa menimpa pada suami atau isteri. Namun fakta di lapangan menunjukkan mayoritas korban KDRT adalah isteri.

Di indonesia, sekarang sudah ada UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Di dalam UU ini juga disebutkan bahwa korban KDRT bisa dialami suami maupun isteri. Di dalam UU ini, bentuk-bentuk kekerasan itu bisa berupa kekerasan fisik, psikhis, ekonomi dan penelantaraan. Kari keempat bentuk kekerasan tersebut, kekerasan fisik yang paling banyak terjadi, dan korbannya mayoritas perempuan (isteri).

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah

            Mengapa terjadi KDRT? Ada beberapa penyebab kemungkinan terjadinya KDRT. Pertama, kesalahan asumsi teologis bahwa diusirnya Nabi Adam dan pasangannya Hawa dari syurga adalah disebabkan dosa Hawa. Cerita yang sampai ke telinga kita terkait hal tersebut adalah, Iblis menggoda Hawa untuk melanggar larangan Allah memakan buah salah satu pohon di syurga. Kemudian Hawa merayu Nabi Adam untuk melanggar larangan tersebut, akhirnya Adam pun memakan buah yang dilarang itu. Cerita ini menunjukkan bahwa perempuan itu menjadi "biang kerok" kejahatan, sehingga patut untuk dilakukan kekerasan padanya sebagai sanksi atas kejahatannya. Kesalahan Hawa tersebut bahkan menjadi mitos dalam tradisi Yahudi yakni adanya kutukan Tuhan terhadap kaum perempuan dengan ditimpa 9 (sembilan) kutukan, yaitu: menstruasi, rasa sakit dan darah keperawanan, beban kehamilan, sakit sewaktu melahirkan, susah payah merawat anak, keharusan menutup kepala seperti orang berkabung, sakit sewaktu dilubangi telinga agar dapat memakai perhiasan, tidak dipercaya sebagai saksi, dan terjadinya kematian. Bahkan tuduan “kesalahan” Hawa tersebut sudah menjadi keyakinan di kalangan umat Islam. Berbagai mitos di atas adalah tidak benar.

            Sebenarnya cerita kasus diusirnya Adam dan Hawa tersebut bertentangan dengan fakta yang ada dalam al-Qur'an. Menurut versi al-Qur'an, godaaan Iblis ditujukan kepada Adam dan Hawa, dan keduanya termakan bujukan Iblis dengan melanggar larangan Allah. Kemudian keduanya menyadari kesalahannya dengan memohon ampun pada Allah. Penyesalan Adam dan Hawa inilah yang menjadi doa yang sering kita baca sebagai pengakuan atas dosa, yakni " رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ" (Ya Allah Tuhan kami, kami (Adam dan Hawa) telah menganiaya diri kami sendiri, jika Engka tidak mengampuni kami dan memberi rahmat pada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi). Cerita Adam dan Hawa tersebut diabadikan di dalam al-Qur'an, Surat al-A`raf ayat 19-24, Surat al-Baqoroh ayat 35-36, dan Surat Thoha ayat 120-123. Di dalam Surat al-Baqoroh ayat 35-36 Allah berfirman:

وَقُلْنَا يَاآدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ(35)فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ(36)

Artinya: “Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (QS. Al-Baqoroh: 35-36).

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah

            Penyebab KDRT kedua adalah relasi suami-isteri yang tidak seimbang di dalam kitab-kitab fikih. Di dalam fikih, perempuan ditempatkan sebagai obyek, sedangkan laki-laki menjadi subyek. Hal ini terlihat dalam definisi nikah. Nikah didefinisikan dengan "aqdun wadlo`ahu asy-syari` li yutarottaba `alaihi intifa`uz zauji bi budl`iz zaujati wa sa’iri badaniha min haitsut taladzudz" (suatu akad yang diatur oleh syari' [Allah dan RasulNya] agar seorang suami dapat menikmati kemaluan isteri dan seluruh anggota badannya yang lain).

Definisi nikah tersebut berakibat, subyek (suami) bebas melakukan apa pun terhadap obyek (isteri), termasuk melakukan kekerasan. Karena isteri sebagai obyek, dia hanya memiliki kewajiban terhadap suaminya, dan tidak memiliki hak sama sekali. Atas dasar inilah, dalam kitab-kitab fikih ditemukan ketentuan, seorang suami bebas men-talak isterinya, karena talak adalah hak suami, bukan hak isteri.

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Apakah KDRT dibenarkan oleh Islam? Bolehkan suami melakukan KDRT terhadap isterinya? Ada kesalahpahaman lagi dalam memahami ayat al-Qur'an yang menjadi penyebab terjadinya KDRT. Hal ini terkait ketika terjadi disharmonisasi keluarga dan solusi yang diberikan al-Qur'an. Di dalam Surat al-Nisa' ayat 34 sebagai kelanjutan ayat di atas disebutkan:

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Terjemahan yang ada menyebutkan:

"Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukul-lah mereka (dengan tidak membahayakan). Jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar".

 

Ayat di atas berisi solusi yang harus dilakukan suami ketika isterinya nusyuz. Nusyuz adalah salah satu pihak meninggalkan kewajiban dalam relasi kehidupan keluarga. Dalam hal ini nusyuz dilakukan si isteri. Artinya, ketika terjadi disharmonisasi keluarga yang disebabkan oleh isteri), maka lanhkah yang ditempuh suami adalah: menasehati isteri. Jika nasehat ini masih tidak mempan, maka suami memisahkan tempat tidur (pisang ranjang). Jika hal ini masih tidak mempan, suami memukul isteri.

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Khusus solusi yang ketiga, yakni suami memukul isteri, apakah ini memang dibenarkan oleh Islam? Kalau dilihat dari asbabun nuzul, ayat di atas diturunkan berkenaan kasus Sa`d bin al-Rabi` dan isterinya Habibah binti Zaid bin Abi Hurairah yang kduanya termasuk Sahabat Anshor. Ceritanya, Habibah melakukan nusyuz, kemudian suaminya menempelengnya. Kemudian Habibah diantar oleh bapaknya pergi kepada Rasulullah menyampaikan kasusnya. Bapak Habibah berkata: Sa`d telah menginjak-nginjak harga diriku dengan menempeleng Habibah. Rasulullah kemudian  berkata: silahkan Habibah membalas menempeleng suaminya. Kemudian Habibah bersama bapaknya minta ijin pulang untuk membalas suaminya. Sebelum keduanya jauh, Rasul kemudian memanggilnya, kembalilah kalian berdua, karena Jibril datang kepadaku membawa wahyu ayat tersebut. Rasulullah kemudian bersanda: kita menghendaki sesuatu (membalas menempeleng), tetapi Allah juga menghendaki sesuatu yang lain, dan yang dikehendaki Allah itu lebih baik. Kemudian Rasul meralat untuk tidak usah membalas.

Kalau melihat asbabun nuzul di atas memang menunjukkan kalau tindakan pemukulan suami terhadap isterinya yang nusyuz dibenarkan al-Qur'an. Tapi apabila dilihat secara mendalam jawaban al-Qur'an atas kasus tersebut justru mengandung beberapa hikmah. Tidak bisa dibayangkan seandanya Habibah jadi membalas menempeleng suaminya, tentunya suasananya akan semakin runyam. Jika misalnya Habibah membalas menempeleng, pasti Sa`d akan membalasnya lagi. Jika seperti ini, maka akan terjadi ibarat pertandingan tinju yang tidak seimbang. Hal ini justru akan semakin menjadikan diri Habibah dalam keadaan bahaya. Jadi larangan isteri membalas menempeleng justru mengandung kemaslahatan bagi isteri.

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Lalu, apakah memang tujuan al-Qur'an itu membolehkan pemukulan suami terhadap isterinya yang nusyuz? Kalau kita mencermati tahapan-tahapan yang diberikan al-Qur'an adalah sebuah solusi agar keluarga yang disharmonis dapat kembali menjadi harmonis. Pertanyaannya adalah, apakah langkah ketiga, suami memukul isterinya akan menjadi solusi, ataukah justru menjadi malapetaka kehancuran rumah tangga? Di dalam terjemahan dan kitab-kitab tafsir memang ditemukan kalimat "bahwa pemukulan itu dilakukan dengan tidak membahayakan isteri". Pertanyaannya adalah, apakah mungkin dalam situasi dan kondisi keluarga disharmonis, di mana suami lagi menumpahkan amarahnya, mungkinkan suami memukul dengan tidak membahayakan? Jawabannya realitas yang menunjukkan dalam media massa isteri-isteri korban KDRT mengalami kondisi yang sangat membahayakan nyawanya. Banyak mereka dalam kondisi kritis karena kekerasan yang dilakukan suaminya.

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Kalau tahapan-tahapan tersebut merupakan solusi, maka langkah ketiga yang di dalam ayat diungkapkan dengan kata " وَاضْرِبُوهُنَّ" perlu penafsiran ulang. Kata "ضرب" menurut arti asalnya adalah suara hentakan kaki ketika menyentuk permukaan bumi. Atas dasar ini, maka langkah ketiga yang sebaiknya diambil adalah "mengajak jalan-jalan isteri" yang dalam bahasa sekarang dikenal wisata yang tujuan utamanya untuk refreshing. Jadi ayat di atas bermakna, ketika isteri nusyuz, maka langkah yang ditempuh suami adalah menasehatinya, kemudian memisahkan tempat tidur. Jika langkah ini masih tidakmempan, maka ajaklah isteri pergi wisata untuk refreshing. Jika makna ini yang diterapkan, maka tujuan langkah-langkah itu sebagai solusi kemelut rumah tangga akan tercapai. Keluarga yang sebelumnya disharmonis akan kembali menjadi keluarga yang harmonis. Namun jika langkah ketiganya adalah suami memukul isterinya, maka yang terjadi justru kehancuran rumah tangga, dan hal ini tentunya tidak sejalan dengan tujuan langkah tersebut sebagai solusi.

Disamping itu, perlu pemahaman secara komprehensif/tematik (tafsir maudlu1iy) untuk melihat relasi suami-isteri. Hal ini perlu kita hubungkan dengan  tujuan nikah yakni mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Di samping itu, suami-isteri itu diibaratkan bagaikan pakaian yang fungsinya saling menutupi kekuarangan dan menampakkan keindahannya. Hal-hal ini tentunya akan mempercepat terwujudnya sebuah rumah tangga yang harmonis, jauh dari segala bentuk tindak kekerasan, amin ya rabbal `alamin...

 

 

 

           

Demikianlah sekelumit khutbah tentang bagaimana Islam mengajarkan untuk menjauhkan segala bentuk tindak kekerasan dalam rumah tangga. Karena hakikat tujuan membina rumah tangga adalah mewujudkan rumah tangga yang dipenuhi sakinah mawaddah wa rahmah. Kelurga seperti ini tentunya yang menjadi damkan kita semua. Semoga bermanfaat, Amin ya Rabbal ‘Alamin……….

 

 

 

الخطبة الثانية

الحمد لله الذي جعل تقواه مفتاح كل السعادة, والصلاة والسلام على سيّدنا محمّد صاحب لواء العلم والمعرفة. وعلى أله وأصحابه ومن تبعه بإحسان إلى يوم القيامة . (أما بعد). فيا عبادالله , إتقوا الله حق تقاته ولاتموتنّ إلا وأنتم مسلمون. قال الله تعالى في كتابه الكريم: إن الله وملائكته يصلّون علىالنبي يا أيّها الذين أمنوا صلوا عليه وسلّموا تسليما. أللهم صل وسلّم على سيدنا محمّد وعلى أله وصحبه أجمعين. أللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا . أللهم سلّمنا وأهلنا من أفات الدنيا وعذاب الأخرة ومن فتنتهما وبليّتهما إنك على كل شيئ قدير. رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عباد الله إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فاذكرواالله العظيم يذكركم واشكروا على نعمه يزدكم واسئلوا من فضله يعطكم ولذكرالله أكبر.

* Dosen Hukum Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak IAIN Walisongo, Pengurus SIJAR FABSEDU Provinsi Jawa Tengah, dan Pengurus BADKO TPQ Provinsi Jawa Tengah.