Pengumuman

PELATIHAN PIJAT TERAPI ZONA TINGKAT LANJUT DI LP KELAS I SEMARANG

07:39, 22 Mei 2015 | Dibaca 1097 kali

Sebuah studi yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa narapidana yang tidak diberi pembekalan entrepreneurship, sekitar 65 % kembali lagi ke penjara. Akan tetapi, setelah narapidana diberi pelatihan entrepreneurship hanya sekitar 3 % yang kembali ke penjara.

Menyadari akan pentingnya pembekalan bagi narapidana dalam menyongsong kehidupan setelah selesai menjalani masa hukuman, maka Senin (11/5/2015) Dr. Baidi Bukhori, S.Ag, M.Si, (dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo) melaksanakan program karya pengabdian dosen dengan tema “Pengembangan kemampuan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dalam bidang entrepreneurship melalui pelatihan pijat terapi zona tingkat lanjut”.

"Selain untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang pijat terapi zona, kegiatan ini juga berguna untuk meningkatkan kemampuan WBP dalam bidang entrepreneurship khususnya yang terkait dengan pijat terapi zona. WBP diharapkan dapat memiliki kemampuan untuk memulai dan menjalankan sebuah usaha pijat terapi zona, baik dari segi manajemen maupun pemasaran," jelas Baidi.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. H. Sholehan, M.Ag. (Ketua LP2M UIN Walisongo), H. Soewarno M. Serad (Chairman Supervisory Board Djarum Foundation), dan Imam Sarwoto, Bc. IP, S.Sos. mewakili Kalapas, serta para WBP peserta pelatihan.

Dr H Sholehan dalam sambutannya menyatakan bahwa pengabdian masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab dosen selain pengajaran dan penelitian. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa seiring dengan perkembangan kajian keilmuan di UIN Walisongo, fokus pengabdian dosen sekarang ini tidak hanya dalam bidang keagamaan, namun juga dalam bidang lain seperti bidang biologi, fisika, dan kimia. Seperti pelatihan pengolahan limbah cangkang udang untuk pupuk, penjernihan minyak bekas, budi daya jamur tiram, dan pelatihan pijat. Ia juga menyatakan bahwa UIN Walisongo mendukung kegiatan pengabdian dosen dengan memberikan bantuan dana, meskipun kecil jumlahnya. Oleh karena itu kerjasama dengan pihak lain, termasuk dengan Djarum Foundation sangat diperlukan.

Soewarno M. Serad dalam sambutannya menyatakan bahwa pijat merupakan upaya terapi penyembuhan yang sifatnya alami dan tidak merusak metabolisme tubuh serta sangat sinergis dengan kondisi badan manusia. Sejalan dengan hal tersebut, Soewarno menyampaikan bahwa segala macam dokter dan apotek tersedia dalam tubuh manusia bahkan manusia dapat auto recovery kesehatan tubuhnya.

Khusus kepada peserta pelatihan, Soewarno berpesan bahwa kemampuan pijat akan sangat baik apabila ditunjang dengan pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan, serta yang lebih penting adalah adanya kemampuan untuk mengendalikan kekuatan fisik manusia dengan emosi, mental, dan kondisi spiritual. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa ketrampilan pijat dapat digunakan sebagai modal bagi WBP untuk kembali hidup di tengah masyarakat. Dengan ketrampilan pijat tersebut diharapkan WBP memiliki kemandirian setelah keluar dari Lapas.

Acara pelatihan pijat yang diikuti 37 WBP tersebut dibuka oleh Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas I Semarang, yang diwakili oleh Kepala Bidang Kegiatan Kerja, Imam Sarwoto, Bc.IP., S.Sos. Dalam sambutannya ia menyambut baik adanya pelatihan ini, dan mengucapkan terima kasih kepada UIN Walisongo maupun para pihak lain yang telah membantu terselenggaranya pelatihan ini.

Pelatihan ini rencananya akan diselenggarakan selama bulan Mei – Juni 2015, serta monitoring pada bulan Agustus 2015. Acara pembukaan ditutup dengan pemberian piranti pelatihan kepada seluruh peserta dan penyerahan 5 buah matras sebagai sarana pembelajaran pijat dari Ketua Penyelenggara Dr. Baidi Bukhori, S.Ag, M.Si kepada Lapas yang diterima Imam Sarwoto, Bc.IP, S.Sos.