Semarang, 9 Juli 2026 – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menyelenggarakan Workshop Pemberdayaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT Ke-22 dan Multidisiplin Mahasiswa Kolaboratif (MMK) Tahun 2026 sebagai bagian dari rangkaian pembekalan bagi mahasiswa peserta KKN. Kegiatan yang berlangsung di Kampus III UIN Walisongo Semarang ini diikuti oleh 444 mahasiswa yang akan melaksanakan pengabdian pada 213 posko KKN MIT dan 9 posko KKN MMK yang tersebar di berbagai wilayah.

Workshop ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengetahuan, keterampilan, serta wawasan yang komprehensif sebelum diterjunkan ke masyarakat. Materi yang diberikan meliputi kebijakan pelaksanaan KKN, tata kelola administrasi, literasi kesehatan, publikasi kegiatan, hingga kolaborasi dengan pemerintah desa sebagai mitra dalam pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan dibuka oleh Dr. Afif Noor, S.Ag., S.H., M.Hum., selaku Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program kerja, tetapi juga menjadi wahana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kepedulian sosial, mengasah kemampuan kepemimpinan, serta menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan yang kolaboratif, inovatif, dan berbasis kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, mahasiswa diharapkan mampu membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah desa dan masyarakat sehingga program-program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat dan mampu mendukung pembangunan desa secara berkelanjutan.
Selanjutnya, Moh. Masrur, M.Ag., selaku Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (Kapus PPM) LP2M UIN Walisongo Semarang, menyampaikan materi mengenai kebijakan dan teknis pelaksanaan KKN MIT Ke-22 dan MMK Tahun 2026. Dalam paparannya, ia menjelaskan mekanisme pelaksanaan KKN mulai dari tahapan persiapan, pelaksanaan program kerja, pelaporan, hingga evaluasi kegiatan. Ia juga mengingatkan mahasiswa agar senantiasa menjaga nama baik UIN Walisongo Semarang dengan menjunjung tinggi etika, profesionalisme, serta mampu beradaptasi dengan karakteristik masyarakat di lokasi pengabdian.

Pada sesi berikutnya, Munfa’ati, S.Pd.I., M.M., memberikan materi mengenai Pola Surat Pertanggungjawaban (SPJ) dan Penyediaan Bantuan Transportasi KKN MIT Ke-22 dan MMK Tahun 2026. Mahasiswa dibekali pemahaman mengenai tata kelola administrasi keuangan, mekanisme penyusunan SPJ sesuai ketentuan yang berlaku, serta prosedur pencairan dan pertanggungjawaban bantuan transportasi. Materi ini menjadi bekal penting agar seluruh pelaksanaan kegiatan KKN dapat berlangsung secara tertib, transparan, dan akuntabel.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Lutfi Ramdhani, S.T. dari BPJS Kesehatan dengan tema Literasi Kesehatan. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan hak dan manfaat kepesertaan BPJS Kesehatan bagi mahasiswa peserta KKN, termasuk mekanisme pemanfaatan layanan kesehatan apabila mahasiswa mengalami kondisi yang memerlukan pelayanan medis selama menjalankan pengabdian di masyarakat. Melalui materi ini, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya perlindungan kesehatan sehingga dapat menjalankan aktivitas KKN dengan aman dan optimal.

Pembekalan mengenai publikasi kegiatan disampaikan oleh Shodiqin, M.Pd., selaku tim redaksi media online. Ia memberikan materi tentang teknik penulisan berita, pengambilan dokumentasi yang baik, pengelolaan konten digital, serta strategi publikasi di berbagai platform media. Mahasiswa didorong untuk mampu mendokumentasikan setiap kegiatan KKN secara profesional sehingga berbagai inovasi dan praktik baik selama pengabdian dapat diketahui masyarakat luas sekaligus menjadi media diseminasi program-program LP2M UIN Walisongo.

Sebagai narasumber penutup, Izzuddin Latif, S.H., M.H., selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Baperlitbang) Kabupaten Kendal, menyampaikan materi bertajuk “Kolaborasi Mahasiswa dan Pemerintah Desa dalam Mewujudkan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Menuju Desa yang Mandiri, Sehat, dan Inovatif.”
Dalam paparannya, Izzuddin menekankan bahwa keberhasilan pelaksanaan KKN tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program kerja yang dilaksanakan, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa membangun sinergi dengan pemerintah desa dan masyarakat. Mahasiswa didorong untuk melakukan pemetaan potensi desa, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, serta merancang program yang sesuai dengan kondisi lokal sehingga mampu memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan. Menurutnya, kolaborasi yang baik antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat akan menjadi kunci dalam mewujudkan desa yang mandiri, sehat, dan inovatif.

Workshop berlangsung secara interaktif dengan antusiasme tinggi dari seluruh peserta. Berbagai sesi diskusi dimanfaatkan mahasiswa untuk menggali informasi mengenai pelaksanaan KKN, pengelolaan administrasi, pemanfaatan layanan BPJS Kesehatan, teknik publikasi kegiatan, hingga strategi membangun kemitraan dengan pemerintah desa selama menjalankan program pengabdian.

Melalui Workshop Pemberdayaan ini, LP2M UIN Walisongo Semarang berharap seluruh peserta KKN MIT Ke-22 dan MMK Tahun 2026 memiliki kesiapan akademik, administratif, sosial, dan profesional sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian. Dengan penempatan di 213 posko KKN MIT dan 9 posko KKN MMK, mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan program-program yang inovatif, adaptif, dan berdampak nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat peran UIN Walisongo Semarang dalam mewujudkan pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Leave a Reply