UIN Walisongo Tingkatkan Kapasitas Sivitas Akademika melalui Pelatihan Pembelajaran Ramah Difabel

Semarang, PSGA News – Upaya Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif kembali diperkuat melalui Pelatihan Adaptasi Pembelajaran Ramah Difabel, Jumat (28/8/2026). Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sivitas akademika dalam menciptakan proses pembelajaran yang dapat diikuti oleh seluruh mahasiswa secara setara, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas.

Pelatihan diikuti oleh Wakil Dekan dari seluruh fakultas, Kepala Bagian Umum seluruh fakultas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa disabilitas, serta perwakilan Senat Mahasiswa (SEMA) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA). Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman dan komitmen bersama mengenai pentingnya pendidikan yang inklusif.

Sesi pertama menghadirkan Basuki, Ketua Komunitas Sahabat Mata, dalam materi bertajuk “Lesson Learned: Suara Difabel dalam Ruang Pembelajaran”. Melalui sesi ini, peserta memperoleh perspektif langsung mengenai pengalaman penyandang disabilitas dalam mengakses pendidikan dan mengikuti aktivitas pembelajaran. Berbagai pengalaman yang dibagikan menjadi bahan refleksi bagi peserta untuk memahami bahwa hambatan belajar yang dialami mahasiswa disabilitas tidak selalu berkaitan dengan kondisi individu. Hambatan juga dapat muncul dari lingkungan, metode pembelajaran, media, maupun pola komunikasi yang belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan aksesibilitas.

Sesi tersebut mendorong peserta untuk melihat pembelajaran dari perspektif mahasiswa disabilitas. Dengan demikian, proses pendidikan diharapkan tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga memastikan setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk memahami, berpartisipasi, dan berkembang dalam lingkungan akademik.

Selanjutnya, peserta mengikuti Praktik Adaptasi Pembelajaran Ramah Difabel yang disampaikan oleh Andayani, SIP., MSW., dari Tim Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada sesi ini, peserta mendapatkan pemahaman sekaligus pengalaman mengenai berbagai bentuk adaptasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Penyesuaian dapat dilakukan pada metode penyampaian materi, penggunaan media pembelajaran, pola komunikasi, maupun bentuk aktivitas akademik agar lebih mudah diakses oleh mahasiswa dengan kebutuhan yang berbeda.

Pendekatan praktik memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami secara lebih konkret bagaimana pembelajaran dapat dirancang secara fleksibel tanpa mengurangi substansi akademik. Adaptasi dilakukan bukan untuk memberikan perlakuan khusus, melainkan untuk memastikan mahasiswa memperoleh akses yang setara terhadap proses pendidikan. Kehadiran mahasiswa disabilitas dalam pelatihan turut memperkaya proses pembelajaran. Mereka dapat menyampaikan pengalaman dan kebutuhan secara langsung sehingga peserta memperoleh gambaran yang lebih nyata mengenai tantangan aksesibilitas yang mungkin muncul dalam aktivitas perkuliahan maupun layanan akademik.

Diskusi dan tanya jawab menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Peserta berbagi pengalaman serta mendiskusikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan penerapan pembelajaran inklusif. Forum ini sekaligus menjadi ruang untuk membangun solusi bersama yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi lingkungan UIN Walisongo. Pelatihan ini menjadi salah satu langkah konkret UIN Walisongo dalam memperkuat implementasi kampus ramah difabel. Setelah sebelumnya dilakukan penguatan kebijakan dan penyusunan SOP, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting agar kebijakan inklusi dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, UIN Walisongo berharap seluruh sivitas akademika semakin memiliki perspektif inklusif dan mampu memberikan layanan pendidikan yang aksesibel, adaptif, setara, dan nondiskriminatif. Dengan keterlibatan pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa disabilitas, serta organisasi kemahasiswaan, penguatan kampus ramah difabel diharapkan tidak berhenti pada kebijakan, tetapi berkembang menjadi budaya bersama dalam kehidupan akademik UIN Walisongo Semarang.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*