Semarang Indonesia — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Diskusi Ilmiah Internasional bertajuk “Dekonstruksi Perspektif Barat terhadap Islam Jawa: Tantangan Metodologis bagi Pengembangan Riset di Tingkat Jurusan” pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Teater Gedung Rektorat Lantai 4 ini menghadirkan Dr. Jochem van den Boogert, akademisi dan peneliti dari Universiteit Leiden, Belanda.
Diskusi dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor II UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Akhmad Arif Junaidi, M.Ag. Dalam sambutannya, ia menyoroti perlunya penguatan tradisi akademik yang kritis dalam mengkaji berbagai paradigma dan teori yang selama ini digunakan untuk memahami Islam Nusantara, termasuk Islam Jawa.
Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan tidak cukup dilakukan dengan mengadopsi teori yang telah tersedia. Para akademisi perlu menguji kembali relevansi kerangka konseptual tersebut melalui penelitian yang mendalam agar mampu menghasilkan pemahaman yang lebih sesuai dengan realitas sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
“Diskusi ilmiah ini menjadi momentum penting untuk memperluas wawasan akademik sekaligus memperkuat budaya riset di UIN Walisongo Semarang, khususnya dalam kajian Islam Jawa. Kita tidak cukup hanya mengadopsi kerangka teori dari luar, tetapi juga perlu menguji validitasnya secara metodologis dan mengembangkan teori alternatif yang lebih mampu menjelaskan realitas kebudayaan masyarakat kita,” tutur Prof. Akhmad Arif Junaidi.

Mengkritisi Konsep Sinkretisme dalam Kajian Islam Jawa
Dipandu oleh Agus Prayogo, M.Pd., Ph.D., diskusi menghadirkan pemaparan Dr. Jochem van den Boogert mengenai persoalan konseptual dan metodologis dalam studi Islam Jawa. Akademisi dari Leiden Institute for Area Studies (LIAS) tersebut mengulas bagaimana pemikiran orientalis Belanda, termasuk Samuel Harthoorn, serta antropolog Amerika Clifford Geertz turut membentuk cara pandang akademik terhadap praktik keagamaan masyarakat Jawa.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah pendekatan dalam studi Islam Jawa cenderung menempatkan praktik keagamaan masyarakat setempat dalam kategori sinkretisme atau animisme. Dalam kerangka tersebut, Islam terkadang dipandang hanya sebagai unsur permukaan yang belum sepenuhnya mengubah kebudayaan lokal.
Dr. Jochem mengkritisi cara pandang tersebut karena berpotensi menyederhanakan kompleksitas kehidupan beragama masyarakat Jawa. Ia juga menyoroti konsep colonial topos, yakni pola pemikiran yang menggambarkan Islam sebagai thin varnish atau lapisan tipis di atas tradisi Hindu-Buddha. Menurutnya, asumsi semacam ini perlu ditelaah secara kritis, termasuk dengan menelusuri latar belakang teologis dan perkembangan intelektual yang memengaruhi pembentukan teori-teori tersebut.
Dalam pemaparannya, ia menggarisbawahi bahwa praktik keagamaan masyarakat Jawa perlu dipahami melalui konteks historis, sosial, dan pemaknaan yang berkembang di tengah masyarakat, bukan semata-mata berdasarkan kategori yang dibentuk dari luar.
Salah satu contoh yang dibahas ialah tradisi slametan yang berkaitan dengan penghormatan terhadap danyang desa. Di dalamnya terdapat berbagai unsur, seperti ujub, doa, sesaji, dan penggunaan kemenyan. Menurut Dr. Jochem, praktik tersebut tidak dapat langsung disimpulkan sebagai bentuk sinkretisme tanpa terlebih dahulu mengkaji konteks dan makna yang melatarbelakanginya.
Karena itu, ia mendorong penerapan dekonstruksi metodologis untuk menelusuri asal-usul konsep, mengidentifikasi asumsi yang mendasarinya, serta menguji kembali kemampuan teori yang ada dalam menjelaskan fenomena keagamaan. Proses ini diharapkan membuka ruang bagi pengembangan competitor theories atau teori-teori alternatif yang menawarkan penjelasan lebih komprehensif mengenai Islam Jawa.

Memperkuat Kemandirian dan Karakter Riset di Tingkat Jurusan
Diskusi ilmiah internasional ini diikuti oleh para dekan, kepala pusat, ketua dan sekretaris program studi, serta peneliti di lingkungan LP2M UIN Walisongo Semarang. Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dengan membahas tantangan penerapan perspektif kritis dalam penelitian, terutama dalam pengembangan kajian Islam dan kebudayaan Jawa.
Pertemuan akademik ini menjadi ruang pertukaran gagasan bagi sivitas akademika untuk memperluas perspektif, mempertajam pendekatan penelitian, dan membangun tradisi ilmiah yang lebih reflektif. Para dosen dan peneliti diharapkan semakin terdorong untuk melakukan penelitian lapangan yang bertumpu pada data empiris, mempertimbangkan konteks lokal, serta tidak bergantung sepenuhnya pada kerangka teori yang telah mapan.
Melalui kegiatan ini, LP2M UIN Walisongo Semarang berupaya memperkuat kapasitas riset di tingkat jurusan sekaligus mendorong lahirnya kajian yang memiliki kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Penguatan tersebut juga diharapkan selaras dengan paradigma Unity of Sciences yang menjadi landasan pengembangan keilmuan UIN Walisongo, sehingga penelitian mampu membangun dialog antara berbagai disiplin ilmu dengan realitas sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat.
Diskusi ini diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertukaran pemikiran, tetapi berlanjut menjadi pemantik lahirnya agenda penelitian yang lebih mendalam, mandiri, dan kontekstual dalam memahami Islam Jawa serta dinamika keberagamaan masyarakat Nusantara.
Leave a Reply